h1

DATA BASE atau DATA BASI ..?????

24 September 2015

Prolog : Tulisan ini pernah di muat dalam penerbitan LPP.com, namun rasanya tergelitik untuk menngangkat kembali tulisan ini dalam blog saya, bukan apa2 … hanya mengingatkan agar tidak kehilangan jejak… maklum ITC (informasi Teknologi dan Comunikasi) semakin canggih . . . . . 

(Gendhis Pethak ) – Januari 2005

Pada saat musim giling pabrik-pabrik gula di Jawa selesai dalam bulan Oktober 2004 yang lalu, ada rasa was-was dan timbul pertanyaan, bagaimana prediksi produksi gula tahun 2004 ini. Secara total memang meningkat dibanding tahun sebelumnya, bahkan angka – angka produktivitas signifikan naik, baik tebu maupun hablur. Selamat !

Dalam tabel berikut tampak bahwa prediksi produksi benar adanya. Pertanyaan yang timbul adalah, apakah kenaikan produksi ini disebabkan karena luas tanaman yang meningkat ataukah hal lain yang tidak diketahui ? Yang jelas adanya SK Memperindag No. 643, yang mengatur tentang tata niaga gula dengan menetapkan harga jual gula petani sebesar Rp. 3.410,- / Kg, memberi dampak bergairahnya pemilik lahan untuk menanam tebu.

Data base adalah kumpulan data dan informasi yang diorganisasikan dan saling berhubungan. Dalam era IT / komputerisasi menjadi sangat istimewa, data menjadi sangat penting. Dalam kamus IT terdapat terminologi “GIGO”, garbage in garbage out, yang memberi konotasi kalau data masuk yang diberikan salah alias sampah maka kesimpulan yang ditarikpun menjadi salah alias runyam, sehingga keputusan maupun kebijakan yang diambil dapat tidak tepat.
Untuk PTPN / PT Gula di luar Jawa umumnya mempunyai areal HGU yang relatif memiliki areal pada lokasi yang tetap. Di Jawa, agak berberbeda, HGU yang dimiliki PTPN / PT Gula, relatif kecil, mayoritas tanaman berasal dari tanaman tebu rakyat, baik yang dalam kendali kelola areal pabrik gula maupun yang bebas ( tanpa ikatan dengan pabrik gula, termasuk tanaman yang dirancang untuk digiling menjadi gula merah ).

Pertanyaan yang muncul berkaitan dengan data yang terrekam pada tabel 1, khususnya fenomena yang ada pada luas areal di Jawa, pada Tabel 2. Melihat kenyataan di lapang dan mudahnya jaringan dan sarana transportasi, dimungkinkan aliran BBT ( Bahan Baku Tebu ) bergerak secara bebas, lintas areal pabrik gula, bahkan lintas PTPN / PT Gula maupun lintas propinsi, sehingga muncul istilah BBT PARIWISATA, perlu dicermati data luas tanaman tebu ditebang. Dampaknya adalah jangan sampai kita terkecoh dengan fenomena produktivitas tebu maupun hablur. Walupun demikian kita tetap harus meyakini bahwa data yang disampaikan adalah benar dan akurat. Secara total memang tidak terjadi kesalahan informasi lahan ? Mudah-mudahan demikian.

SETETES NIRA

Tulisan ini sebenarnya mengajak semua yang terlibat, untuk memahami pentingnya DATA BASE, khususnya sejak areal tanaman ditentukan, dengan melakukan pengukuran ( dapat menggunakan berbagai macam dan tipe alat, yang penting akurat, tercatat dan digambar dalam suatu peta wilayah yang jelas ). Dari data base yang akurat inilah semua perencanaan kegiatan di kebun dirancang, baik mengenai renacana tanam / kepras, kebutuhan bibit – pupuk & obat2an – tenaga kerja – bahkan sampai RENCANA PANEN / tebang. Pengalaman penulis menunjukkan bahwa sampai tahap ini semua berjalan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan disepakati.

Keadaan menjadi kurang akurat pada saat musim giling tiba. Fakta lapangan berkata lain, tanaman tebu bebas, yang tidak berafiliasi pada suatu pabrik gula, seolah bebas berkelana, baik secara langsung ke satu atau beberapa pabrik gula, maupun melalui “perantara” berkedok “penampungan” BBT, menyalurkan BBT yang asal usulnya tidak jelas – dikirim ke satu atau beberapa pabrik gula yang “membutuhkan tambahan BBT”. Pada keadaan semacam ini secara JUJUR harus dikatakan bagaimana sistem PENCATATAN Produktivitas Tebu nya ?

Bagi “pemilik” BBT, paling-paling berucap EGP ( emangnya gue pikirin – sebodo amat ). Bagi penerima BBT, “ah gitu aja koq repot, paling produktivitas tebu 60 – 70 T / Ha , tulis aja . . . . . . “ Lho koq ? Masih saja terdapat fenomena “aneh”, akibat kurang “handarbeni”nya pemilik BBT, kaitan dengan BBT yang terikat dengan kredit. Yang penting kredit lunas, dicukupi dengan sejumlah pasok BBT pada pabrik gula pembina. Setelah dirasa “lunas”, BBT sisanya seolah bebas berkelana kota, baik dikelola sendiri maupun “dititip kelolakan” ke perantara, penampungan BBT di luar pabrik gula, maupun “jual aja di atas lahan”, beres.

Kesimpulan sementara dari uaraian di atas adalah, data awal bisa saja tepat dan akurat, namun data akhir per satuan kebun, wilayah, pabrik gula, daerah dst. dst. bisa kurang akurat, walaupun secara nasional, mudah-mudahan tepat.

Mengingat teknologi informasi bukan lagi menjadi sesuatu mahluk yang asing dan menakutkan , sudah saatnya semua yang terkait dan terlibat dalam kegiatan ini menyadari pentingnya informasi ini, sehingga pengambil kebijakan tidak terlalu bias dalam mengambil keputusan dan langkah tindaklanjut pengelolaan industri gula ini. Sistem penginderaan jarak jauh, melalui satelit yang terkoneksi ke setiap unit terkecil ( pabrik gula, KPTR, Dinas Perkebunan dsb.) dapat dijadikan salah satu jawaban dalam mengatasi fenomena unik tersebut. Di Jawa Timur terdapat falsafah “jer basuki mawa bea” , yang artinya memang diperlukan biaya yang juga tidak sedikit. Namun sudah saatnya kita semua menyadari pentingnya hal ini.

Kesadaran pihak-pihak terkait dalam melakukan pencatatan, baik pabrik gula, APTR – KPTR, Dinas Perkebunan, Pemerintah Daerah, per Bank an, dll yang terkait, sangat diperlukan. Hal yang paling kritis adalah pada saat panen / tebang. Kebebasan tidak berarti “semau gue”, tetapi terdapat tanggung jawab moral dan material bagi kepentingan nasional.

Tulisan ini memang bermaksud menggugah kesadaran tersebut, karena pada ahirnya terminologi GIGO tidak menjadi terminologi yang dianggap biasa saja. Dalam istilah “plesetan” jangalah Data Base yang ada cuma menjadi DATA BASI semata, yang pada akhirnya menyesatkan. Kapan dimulai ? Ya sekarang . . . . .

Soerabaia, Januari 2005 …. menjelang tahun2 terakhirku berbhakti di pe te pe en ku ….. mudah2an bermanfaat.

h1

KETIKA SAAT GILING TIBA

24 September 2015

Saat memasuki bulan Mei. alangkah indahnya . . . . .

Saya merasa bahagia, tetapi cukup deg-degan juga. Sebagaimana biasanya pabrik-pabrik gula di belahan selatan katulistiwa memulai masa giling. Bagi mereka yang mempunyai kondisi tubuh fit, sehat jasmani maupun rohani, tidak punya beban “penyakit” seorang manajer, ya kholesterol, ya tekanan darah tinggi, ya diabet ataupun asam urat, mah tenang-tenang saja. Anggap saja dinamika kehidupan. Bagi yang “kaya” akan berbagai macam “penyakit bawaan” tersebut, perlu berhati-hati untuk menjaga stabilitas kondisi jiwa dan badan. Kalau saja ritme hidup ini dilakoni dengan pola yang teratur, ya olahraga, ya makan, ya kerja, ya istirahat dan lainnya secara berimbang, rasanya tiada perbedaan bagi tubuh kita ini, saat masa giling dan saat di luar masa giling. Memang kondisi setiap orang berbeda, namun fenomena umum berkata demikian, bagaimana mensikapi.

Pertanyaannya, kenapa bahagia dan kenapa harus deg-degan ?

Pertama kita bahagia karena sebentar lagi merupakan ajang unjuk apresiasi “hasil kerja” kita selama satu tahun ( bahkan beberapa tahun sebelumnya. Bukankah bibit harus dipersiapkan beberapa tahun yang lalu, seharusnya ?!? ). Kalaupun kondisi iklim cukup baik, sesuai prediksi maupun siklus beberapa tahunan yang selalu diikuti dan dipelajari, kalaupun taksasi produksi sudah di data dengan benar, kalaupun sejarah kebun telah dicatat dengan akurat, kalaupun pengawasan telah dilakukan dengan teratur, kalaupun agro input telah diberikan sesuai ketentuan dan bahkan kalaupun semua hasil dari satu kebun benar-benar seluruhnya digiling pada satu pabrik yang sama, rasanya rasa bahagia ini sudah selayaknya 49 % dinikmati. Kenapa, kalaupun demikian banyak kalau-kalu tersebut terjawab dengan “ iyaa, semua telah saya yakini, benar adanya”, kepastian hasil kerja, mudah-mudahan tidak jauh menyimpang dari kurva normal. Bahasa kerennya, dengan tingkat deviasi +/- 5 %, atau tingkat kepercayaan 95 – 100 %.
Baca entri selengkapnya »

h1

VARIETAS TEBU

8 Juni 2015

JUMLAH dan MACAM

sering dikeluhkan oleh para cane planters bahwa seolah bibit tebu (baca varietals tebu), tidak siap untuk menggantikan varietas  yang sekarang ditanam di kebun2 tebu ….ditinjau dari jumlah nya dan macam  varietasnya …..kalau ini benar ! Ya memang memprihatinkan …….

saat ini … Keberadaan varietas  tebu yang ada di kebun  (khususnya kebun tebu di jawa), yang sempat saya amati (spotting),dan berdasar informasi lisan yang bisa saya peroleh ….dominasi varietas BL tak terbantahkan !  ( silahkan anda sampaikan data anda kalau hal ini kurang tepat …saya bicara makro ). Secara keseluruhan dalam satu kawasan wilker pabrik gula ….( tanaman PC dan RC 1 sd n)…

Tebu Varietas  BL ….dianggap paling handal DAN PUNYA potensi tonage tebu yang tinggi ….(toh “katanya” rendemen paling yo segitu2 ajah ….pabrik nya tueeeek ! – tua2 keladi lhoooo) Harapan lain PS JT 941, PS JK 922 dan sedikit 921, VMC 76-16, PS 881. PS 862, KK, dan dibeberapa PG punya jago kandang … DI be berapa lainnya ..bisa adopsi sendiri …yang mungkin ada yang seperti ex ROC ….dsb

Dominasi BL hampir mirip ketika BZ 148 (aseli nya M442 51), menguasai hampir semua kebun tebu yang ada (Jawa) sampai di cetuskannya program Bongkar Ratoon + ( kemudian diikuti dengan program rawat ratoon) ketika BZ 148 ditengarai terkena penyakit pembuluh (RSD ,  ratoon stunting diseases), dan kemudian pengganti yang dianggap handal adalah BL …..rasanya koq ML diganti ML ….karnea dianggap BL : (1) tahan banting, (2) bobot tinggi, (3) diyakini kadar gula juga tinggi – karnea mitos yang ada, bahwa kalau warna ungu … cenderung potensi rendemen tinggi (ingat era BZ 132 doeloe itu, kebalikannnya dengan PS 30 yang kuning jelita).

Padahal, Ir.EKA S, MS salah satu pakar pemuliaan tanaman P3GI dalam blognya menguraikan  Konsep Penataan Varietas pada Sistem Budidaya Tebu, menekankan peranan Varietas dalam mencapai target produksi (GULA) ! antara ditulis     ……. ” Produktivitas suatu pertanaman tebu merupakan sinergi dari kemampuan suatu varietas dan pengelolaan lingkungan tumbuhnya. Penggunaan varietas yang sesuai disertai pengelolaan lingkungan tumbuh yang tepat akan menghasilkan produktivitas tanaman yang tinggi. Varietas seperti teknologi yang lain mempunyai daur hidup. Setelah diciptakan dari serangkaian percobaan dan pengujian, varietas dapat ditanam secara komersial, dan beberapa lama kemudian kemampuan produksinya akan menurun, serta varietas pengganti harus dimunculkan. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa masa produktif suatu varietas tebu unggul antara 5-6 tahun, setelah itu terjadi penurunan potensi produksi, baik dikarenakan penyakit, kemarau panjang dan sebab lainnya. Dinamika masuk dan keluarnya suatu varietas dalam sistem produksi perlu ditata agar produktivitas suatu pertanaman terjaga.”, selanjutnya beliau menekankan, sbb :  ….”Keunggulan suatu varietas yang dikembangkan selain memberikan produktivitas tinggi, harus pula mempunyai toleransi terhadap hama dan penyakit utama setempat, serta mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan, cuaca dan pola budidaya di wilayah tersebut. Hal ini terjamin apabila varietas unggul yang direkomendasikan untuk dikembangkan di suatu wilayah PG telah melalui kajian adaptasi yang meliputi kegiatan-kegiatan orientasi varietas (ORVAR) dan adaptasi serta demonstrasi plot atau yang populer dikenal dengan warung tebu (WARTEB).” …… yang bagi saya diikuti lagi dengan DEMPLOT atau DEMFARM di suatu wilker pabrik gula, untuk lebih meyakini terhadap upaya kesinambungan pemakaian varietas tebu yang handal

Eka, juga menggaris bawahi ….” Produktivitas suatu varietas umumnya ditentukan oleh potensi genetik varietas yang ditanam dan lingkungan tumbuhnya. Pemakaian varietas unggul yang sesuai didukung teknik budidaya tanaman yang tepat akan memberikan tingkat produksi yang tinggi. Kondisi lingkungan tumbuh dan teknik budidaya tanaman tebu yang sangat beragam pada saat ini, khususnya pada budidaya tebu lahan kering, akan menentukan varietas unggul yang cocok untuk setiap kondisi tersebut. Konsekuensi dari kondisi ini  keunggulan suatu varietas juga ditentukan oleh ekosistem dan pola budidaya setempat.” …. artinya dalam memilih varietas …kita wajib memahami sifat dan karakteristik serta deskripsi dari varietas yang dimaksud. Pengertian kita  adalah “PENGGUNA” … bukan katanya!

Nah, untuk memahami hal tersebut, saya mencoba sekedar sharing, sebenarnya bagaimana sih sifat BL (yang notabene adopsi dari “sono”) , sejauh yang saya ketahui (baca) mempunyai pola tanaman satu PC + 7 atau 8 RC.

Deskripsi BL ini saya kutip dari sumber P3GI, sebagai berikut :

BL Deskripsi

Setidak2nya kita pernah membaca plus minusnya suatu varietas , bukan karena “katanya” baik dan ternyata begitu2 saja ! kita wajib memahami pengertian bibit (benih) bersertifikat ..(kalau mau)…. karena memang ada aturannya !

Saya cuman bermimpi bahwa pada saat kita merencanakan untuk menanam tebu pada tanaman pertama (PC) …sudah dipersiapkan Kebun Bibit yang memang secara berjenjang dilakukan …..Setiap kali kita ingin melakukan penggantian varietas , setidak2nya sudah di rancang dan direncanakan sekian tahun sebelumnya (bahwa dipersiapkan sejak di KBP atau setidak2nya di KBN nya) !  MUNGKIN … teknologi KulJar bisa dilakukan u melakukan percepatan perbanyakan varietas baru, namun tetap memerlukan waktu – sebelum bibit tsb siap untuk dialihtanamkan di kebun tebu gilingnya . Kebiasaan untuk “mendapatkan” varietas baru dengan bibit “ala kadarnya” nampaknya menjadi hal yang lumrah dan dianggap biasa2 sajah (berlindung dibalik kata2 …situ engga siap, ada tapi gak cukup dst dst dsb dsb) Memang dulu mana ayam sama telor ……. (dulu sama – kalee). SEKALILAGI perencanaan penggantian dan pengembangan varietas baru TIDAK serta merta dilakukan secara ujug2 ….hari ini kita lihat di sana …hiyaaaa sana tuuuh bagus …pulang ke tempat …MINTA serupa ! lebih elegan rasanya kalau u satu, dua tahun bahkan tiga tahun ke depan …VARIETAS APA YANG akan kita tanam, untuk mengganti varietas lama, dipersiapkan secara matang. Toh warteb dan demfarm sudah ada ! (kalau ada).

Apa yang saya tulis adalah sedikit dari apa yang akoe amati ….bukan cerita bual semata ! selalu ada pro kontra dan sifat mempertahankan diri terhadap kenyataan ini  ,,,,,”kondisi menyebabkan demikian”….. (???) Pengelolaan budidaya tanaman (apa saja) termasuk Tebu,  perlu perencanaan dan penataan yang benar – khususnya dalam hal pemilihan varietas yang ditanam (bibit) …………………….. termasuk keseimbangan komposisi ideal varietas tebu dengan sifat kemasakan yang berbeda, Masak Awal – Masak Tengah dan Masak Lambat secara propsional, sehingga pada saat musim giling, BBT yang dikirim gilingkan selalu pada kondisi Masak Optimal….. (ditegaskan dengan angka standard kriteria optimal, antara lain FK – KDT dan KP , yang diperoleh dari hasil analisa kemasakan / analisa pendahuluan yang benar!) .

Saya hanya ingin berbagi, bukan menggurui …..karena saya BUKAN GURU …….!

Kalau anda anggap benar …monggo dibenahi bersama,

kalau anda anggap mengada2….silahkan ……anda delete saya …………………………….

 

 

h1

mohon maaf kepada para sahabats gulamania

2 Juni 2015

Salam pergulaan ….”gendhis pethak” ber SNI  ..(lho koq …….??!! – emang kagak boleh ?)

Rasanya sedih, setelah sekian tahun tidak mengaktifkan media Blog saya ini, larut dalam kegiatan rutin yang terkadang menjadikan kebiasaan saya untuk sedikit mencurahkan rasa hatiku yang masih resah dengan segala permasalahan di kancah pergulaan nasional ini (aaakhhhh alasan klasiik….yaa – saya mah begitu !!!)

Ada poin utama yang mengganjal yaitu kata kunci “PROTAS ..(produktivitas pada tanaman tebu, (1) PROTAS TEBU dan (2) PROTAS HABLUR — boleh juga Protas Gula) — saya cenderung mengatakan PROTES GULA….. (???) lho koq ?lha hiya laah.

Ilustrasi menarik yaitu ketika saya sedang bercuapria di dalam salah satu kelas, dihadapan para mahasiswa/i generasi muda yang masih idealis, kemudian ada salah dua mahasiswa/i yang menanyakan dua pertanyaan, yakni

(1) Pak …. ! bagaimana prospek pergulaan (maksudnya pabrik gula) di Indonesia di masa mendatang, apakah masih ada harapan kalau memperhatikan kondisi dan situasi pergulaan yang konon seolah ribet dan tidak menjanjikan ? bla bla bla atau tra la la …sama sajah.

(2) Ketika bapak…pertama kali masuk dlm lingkungan pergulaan, (entah tahun berapa) dan kemudiaan bapak memasuki pensiun bahkan sampai saat ini, progress apa yang sudah bisa bapak peroleh – khususnya tentang produktivitas ??

Kedua pertanyaan memang diajukan secara polos – TANPA bermaksud melecehkan atau mecibirkan apa yang sudah perbah saya jalani, tetapi benar2 pertanyaan dari hati nurani, dalam kaitan akan memlih komoditas yang diminati dalam bidang studinya dan obesesi untuk bekerja dimana dikemudian hari !

Maaf, para sahabats pergulaan yang saya hormati, saya sayangi dan saya banggakan ! Kalau ANDA ( hiyaaa … anda …dan anda yang lainnya, mendapatkan 2 pertanyaan semacam ini, apa kira2 yang akan anda sampaikan untuk menjawabnya ?? saya tidak memaksa ANDA untuk menjawab, dan atau silahkan ANDA memberikan jawaban “demi” anak cucu kita bersama) ! MUNGKIN…. akan ada yang befikir …… untuk menjawab :

(1) aaah sebodo amat, pokoknya gue dah berbakti – biar difikir orang lain/ gue bukan peramal koq !

(2) ngapain elo nanya2 kayak begitu siiih …. udah belajar yang baik ajah – asal IP mu bisa diatas 3,5 dah bagus – toh dimanapun kamu nti bekerja yang kamu hadapi belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya kamu minati

(3) gak usah neko2 … pasti baguslaaah ….. ,masa lalu yo wis kepriben wae – ke depan hayuuuh di garap bareng2 … khan gula masih dibutuhkan manungsa … sampe kapanpun… !

(4) diem …. dan berfikir … hiya ya  aaa …. pertanyaan (1) menyangkut masa depan – petrtanyaan (2) menyangkut masa lalu – bahkan ingin tahun startegi apa dan atau menguji kompetensi dan profesi.

Nah lhooo ! Sayapun demikian, bisa acuh ajah anggap pertanyaan iseng, tapi kemudian saya merenung renung dan merenung renung …(sreeet ………………sementara saya jawab “saya coba untuk mencari jawabannya – sabaar yaaa pertemuan berikut akan saya coba mengulas ! – puaz kagak puaz …. terserah anda menilai )

beberapa hari kemudian ………………………

Untuk pertanyaan (2) engga syulit menjawabnya … data ada dan tinggal menyampaikan dengan ilustrasi …cam macam …..

nah sebagai ilustrasi adalah Data berikut :

Tuuh bisa di cermati sendiri !

Tuuh bisa di cermati sendiri !

Pada saat saya memulai di pabrik gula / PTP Gula pada tahun 1977,  ..datanya semacam itu Protas Hablur 9,4 Ton/Ha dan ketika secara formal saya harus meninggalkan PTPN Gula ytahun 2005, ….angka Protas Hablur menjadi 5,8 Ton/Ha …. FAKTA DATA bukan GOSIP …lhooo kenapa bisa begitu ? nah itu dia …. Anda yang lebih tahu dan lebih paham bukan ?

Namun dalam pengamatan saya … ada beberapa hal yang sangat mebndasar … antara lain (1) “lunturnya” pemahaman budidaya tanaman sesuai pola yang di anut ( klo mau pola reynoso – ya pakailah pola reynoso yang benar (jangan bilang zamannya sudah beda – air sullit – tenaga kerja kagak ada dsb) … kalau benar begitu ya OJO NGOMONG saya menikuti POLA REYNOSO tapi kaidah2 baku teknis engga di penuhi, ATAU kalau pakai POLA  MEKANISASI ya … ikutilah kaidah penggunaan alat2 mekanisasi, misal masalah kondisi kapasitas lapang dsb, ATAU kalau mau kombinasi pola keduanya …. lakukan sesuai SOP yang sudah dibuat dan disepakati) . Keprihatinanku adalah ketika …. terjadi delta protas antara realisasi dan target (baca RKAP) …. pertanggung jawaban yang ada adalah terlalu kualitatif ! Seyogyanya dapat disikapi dengan pemberian Fakta Kuantitatif yang jelas, apakah pada parameter jumlah batang, diameter, berat batang per meter, tinggi tanaman atau sebab2 lain yang TIDAK DIKETAHUI ! terkadang  data luas sudah terlanjur xx Ha, target tebu yy Ton … dalam pelaksanaannya sebagian dari yy ton itu … berpariwisata dengan baju lain… sehingga data protas menjadi bias… inipun menjadi salah satu ALASAN KLASIK terjadinya delta produksi (kalau kurang – kalau lebih ? oooh itu prestasi !!! katanya?) opo hiyooo . …. (2) pemakaian Varietas yang kurang tepat (sering terjadi … kutip sana kutip sini, njuk diminati tanpa melihat pola penataan varietas, baik dari sisi kualitas, komposisi, jumlah maupun sifat2, sehingga terkesan varietas menjadi nano2 bahkan di dominasi masak lambat dan bibit tidak berlabel (certified ??)…. ANDA yang paham !…. (3) masa tanam dan masa kepras yang kurang optimal ….datanya sih benar … faktanya “mungkin” abu2 ……coba di cermati lagi ….. (4) aplikasi pemupukan yang kurang akurat…… (maaf kadang2 hanya sebagian)…. tanpa menngunakan ukuran yang benar … SOP nya adalah dosis pupuk berdasarkan analisa tanah dan atau kemudian diikuti analisa daun, akhir ini ada kesan  tata kelola pupuk ada perubahan sehingga pemupukan (dua) terlambat … trus tanaman MAKAN apa ? sebodo amat ! …..(5) manajemen panen yang ….piyeee yooo ? prihatin dan bisa2 front tebangan begitu banyak, tingkat kesegaran relatif TIDAK TERCATAT apalagi dipantau, lasahan banyak dan yang menyedihkan TEBU PARIWASATA seperti menjadi BIASA seolah ketentuan baru yang syah2 saja ! Syah koq selama transaksional OK  !! (emang  gue siapee ?), trus piye caranee mencatat data luas ditebang kalau satu truck besumber dari berbagai pelosok negeri dan atau hasil kumpulan dari berbagai kebun di himpun menjadi satu pada truck besar selanjutnya DIANGKUT ke yang MAMPU membutuhkan ( baca “beli”) … trus BAGAIMANA CARA MENCATAT DAN MENDATA KESEGARAN – ??? gak opo2 toooh sudah transkasional … YO WIS klo mangkono !…… do not speak about MSB … toh ada yang “mampu” bertransaksi satu Ton tebu setara sekian Ton Gula … selesai ! U dapat gula gue juga idem  + armada gue dapat upah …. lumayaaan ! …Sehingga …. klo lebih rinci … terkadang saya membaca data produksi terinci bahwa  protas tebu pada katagori tertentu … jauh dari kewajaran .(bisa mencapai angka diatas 150 Ton/ha rerata lhooo… tanpa ada penjelasan … parameter mana yang domnan guna menunjang hasil akhir tsb) … coba lah ANDA tengok sendiri dan simpulkan ………

Itulah kondisi umum kaitan dengan pertanyaan ke (2) …eee kata si mahasiwa tsb : “artinya bapak gagal dong dengan prinsip hari ini lebih baik …bla bla bla bla …?”  gedubraaak bener kalee yaaa ! mbathin wae lah sambil senyum2 kecccuuuttt.

Untuk pertanyaan no 1 …. nah ini …. sebenarnya engga sulit2 amat …selama kepastian bahan baku tebu (BBT) benar2 anda kuasai … (entah HGU entah apapun ikatannya) …. dengan kualitas yang dispekati …. sesuai SOP … ya sumustinya pasti harus mampu menghasilkan yang baik ..dan tiap tahun menuai progress positif … ditinjau dari sisi PROTAS GULA / HA sajalah (dengan catatan data base nya benar dan akurat….! GPS ? aakhh itu khan awal pengukuran klo sudah tebang … apa BBT nya ada chips yang bisa diikuti kemana geraknya seperti pakai alat trackker pada era digital ini ?

Kenapa demikian … kalau bicara pabrik gula produk akhir cuman Gula dan Tetes ++ blotong …… yaa mungkin madesu … selama sistemnya seperti ini…  kenaikan upah tiap tahun TIDAK BISA dihindari, kenaikan produski (baca PROTAS) jauh bola dari gawang! Namun klo  pabrik gula MAMPU  berkembang menjadi suatu INDUSTRI GULA berbasis tanaman tebu dengan segala aneka produk turunannya …. hmmmm … Saya meyakini propspek Pabrik Gula (baca INDUSTRI GULA lhoo) masih menjadi suatu yang dihandalkan !

Satu hal lagi …. mari kita melakukan pendekatan … biaya PROTAS SDM di pabrik gula  disetarakan dengan produksi gula yang dihasilkan …… naik atau turun … SILAHKAN Anda hitung … arahnya kemana … otomatisaui peralatan baik On Farm maupun Off Farm … bukan malah menambah SDM ! Kemufdian peran serta para pemangku kepentingan untuk bekerja secara lebih profesional berdasarkan saling menghormati – kesetaraan dan kebersamaan … bukan saling “menyalahkan” …. pola kerja sudah perah diatrur koq … di pahami dan atau diikuti apa tidak … ANDA yang TAHU … saya hanya mengamati !

OOHHHHHHH …. too muck too talk … too much too written ….

cukup sudah cekap semanten ……

mohon maaf klo abdi ayak nu hilap !

h1

lupaa

22 Juli 2013

saya lupa meng update Blog saya

Mohon maaf ya para sahabats !

h1

nuansa Dies Natalis ke 43 – Lembaga Pendidikan Perkebunan – apa yang dapat akoe dedikasikan ?

7 Februari 2013

Setelah sekian lama  . . . tidak menikmati aura “kampus”  . .  !

Sejak Nopember 2012, akoe “bergabung” di salah satoe “almamater” koe  – yang kalau dihitung2 sudah cukup banyak dan berkali2 membekali diri koe dengan berbagai ilmu dan pengetahuan terutama kaitan dengan yang namanya “management”, membekali dalam bentuk mengikuti kursus jabatan yang memang menjadi kewajiban di lingkungan BUMN perkebunan, ataupun membekali melalui berbagai macam kursus irregular yang pernah akoe ikuti (ditugasi untuk ikut oleh induk semangkoe)  . . . . mulai kursus bahasa inggris . .  peningkatan effektifitas diri . . . training for trainees . . . pengambilan kepuusan  . . . . . . . dsb dsb dsb, kalau akoe buka document keeper koe mungkin sudah sekian banyak “sertifikat” yang “wajib” akoe simpan . . . . . . . JUGA  . . . sudah sekian kali akoe bergabung sebagai tutor, pendamping, sampai disebut dosbang apa doster (dosen terbang ??-  padahal seneng naik bis atau KA), baik saat masih aktip sampai saat ini,  . . . PULA  . . . . . berkontribusi dengan berbagai ungkapan hati dalam bentuk naskah tulisan yang alhamdulillah laikmuat di LPP.Com . . .  (setidak2nya “DIBACA” atau “dilihat judunya thok” oleh para penghuni BUMN Perkebunan) . . . merupakan ajang ekspresi diri . . . sehingga muncul pertanyaan (setelah purna tugas . .) “untuk apasemua itu ???” –  atas semua yang sudah akoe peroleh selama berkarya (dan sekolah tentunya . . .)  . . . So pasti  . . . men amalkan apa yang sudah pernah akoe dapat merupakan salah satu obsesi koe  . . . pilihannya adalah “bergabung” pada salah satu lembaga pendidikan (baca : kampus) yang secara langsung akan bersinggungan dengan masyarakat perkebunan (dimana akoe di besarkan!)

Ada rasa bangga dan ada rasa tanggung jawab atas apa yang “harus” akoe dedikasikan dalam kehidupan di kampus, yaitu “kebenaran”  . . .  padahal terkadang akoe dihadapkan pada kondisi riil kehidupan yang terkadang berlindung dibalik “ketidak benaran” . . .karena semua hanya untuk “kebaikan” semata  . . . tapi memang (setelah akoe renungkan) itulah dinamika kehidupan nyata yang sebenarnya merupakan “ujian” dari Nya  . . . . Oleh karena itu  . . . dalam lingkungan kampus koe yang “baroe” ini, akoe merasa ditantang untuk selalu menggali pengetahuan dan membandingkan pengalaman yang sudah akoe jalani, bahasa kerennya “menyegarkan/ renewing/ memperbaharui” hal hal yang harus diungkapkan, tidak sekedar bicara “tempo doleoe” / singen / it was, tetapi disesuaikan dengan perkembangan terkini dalam kondisi yang sudah banyak berubah disamping jeli untuk melihat prospek ke depan  . . . terhadap hal2 yang mungkin suatun ketika bisa menjadi ancaman  . . .

Beberapa hari yang lalu (tepatnya tgl 1 Pebruari 2013),bertepatan dengan Resepsi Dies Natalis ke 43 LPP, momen ini memang menggelitik koe bahwa “hawa kampus” terasa,  telah di “launching” beberapa buku dan salah satunya adalah  Buku Pedoman Mandor tentang Tanaman Tebu, di expose Gambarsecara seremonial , tentunya dengan harapan dokumentasi dalam bentuk tulisan (buku) ini bisa di lihat di baca  di implementasi kan – disesuaikan dengan kondisi setempat / masing2  . . . . . akoe pun masih berharap di masa mendatang masih akan muncul buku2 berikutnya – khususnya terkait dengan per teboe an yang bisa di terbitkan – untuk apa sebenarnya ? Baca entri selengkapnya »

h1

SELAMAT TAHUN BARU 2013

31 Desember 2012

Setelah hampir tigaratusenapuluhlima hari dilalui . . .kali ini akoe dengan “clan” ku berkesempatan untuk travelling agak berbeda  . . . . Surabaya, Pati, Semarang, Bawen, Temanggung sebagai stage 1, RON di Temanggung  . . . dan esoknya lanjut Stage 2  hanya sekitar 60 km, temanggung wonosobo langsung naik ke Dieng Plateau  , , , , , “subhanallah”  . . . . TUHAN MAHA BESAR  . . demikian kaarunia Allah SWT yang dilimpahkan kepda umatnya  . . . . . (catatan : sekian kali berkesempatan ke wonosobo, “BARU” kali ini menyempatkan melihayt keindahan Dieng Plateau yang memang penuh kelimpahruahan  . . . ..

Dan  pada 31/12/12 di penghujung tahun 2012, akoe lanjutkan stage 3, wonosobo, keretek, ke arah purworedjo (tetapi) berbelok ke kiri arah Salam Magelang  . . . . untuk akhirnya “mendarat” dengan muklus di mabes koe “kali” ini, GH Planter el pe pe . . . . . di jantung kota Yogyakarta  . . . . .

Dalam suasana gerimis mesraaaa, akoe dan clan koe ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2013, sekalipun ketika tulisan ini akoe angkat, masih akoe lakukan “count down” skitar tigaratusduabelasmenit menuju 2013. . . . . dengan harapan tetap pada kenyataan bahwa ; masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah anugerah dan masa depan adalah setitik noktah  . . . . Mudah2an Allah SWT selalu melimpahkan nikmat dan karunia NYA bagi kita semua  . . . marilah kita menundukkan kepala sejenak terhadap apa yang telah kita lakukan terhadap apa yang ALLAH SWT “titipkan”pada umatNYA . .  baik itu alam, hewan dan tumbuhan  . . . apakah kita mampu memberikan mafaat bagi sesama umat Allah Swt ?  . . ..